Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Kisah Nabi Muhammad SAW - Wafatnya Nabi Muhammad SAW (Bagian 5 Selesai)

Selasa, 11 Juni 2024 | 21:27 WIB Last Updated 2024-06-11T14:42:12Z
Daftar Isi [Tampilkan]
Kisah Nabi Muhammad SAW
Kaligrafi Nabi Muhammad ﷺ | Pinterest.com

Rasulullah ﷺ Membangun peradaban

13 tahun Rasulullah ﷺ berdakwah di Mekkah untuk menyebarkan agama tauhid namun hanya segelintir yang menerima dakwahnya. Sebagian besar penduduk Mekkah mengingkari risalah yang dibawanya. Rasulullah kemudian berhijrah ke Madinah yang disambut dengan tangan terbuka oleh penduduk Madinah.

Setelah ada titik terang penduduk Madinah lebih kondusif, Rasulullah mulai melakukan jihad baru, yaitu pendidikan ahlak Islami dan membangun Madinah.  Hakikatnya Rasulullah bukan hanya berdakwah tauhid dan syariat namun juga membuktikan contoh nyata bagaimana hidup dengan menerapkan kebajikan.

Pelajaran pertama yang diajarkan Nabi ﷺ bagi kaum Anshor dan Muhajirin untuk menjadi masyarakat madani adalah persaudaraan, gotong royong dan solidaritas.  Rasulullah memberikan pengertian tentang makna ukhuwah Islamiyah dengan menyatukan mereka atas dasar kecintaan mereka kepada Allah SWT dan RasulNya serta hasrat untuk menolong agamaNya. Dengan adanya penyatuan ini Islam berkembang sangat pesat di Madinah.

Untuk mentarbiyah masyarakat baru ini Rasulullah kemudian mendirikan masjid yang berfungsi sebagai tempat shalat dan juga tempat berkumpul untuk bermusyawarah dalam berbagai perkara baik agama maupun dunia.

Di Madinah terdapat komunitas Yahudi yang cukup berpengaruh dalam masyarakat. Rasulullah kemudian merangkul mereka sambil meletakkan kaidah-kaidah bermuamalah,  antara kaum muslimin dan selain muslimin berdasarkan persaudaraan, saling menghormati keyakinan, dan dapat hidup berdampingan meskipun berbeda dalam aqidah, ras maupun adat istiadat. Rasulullah memberikan jaminan keamanan kepada mereka atas harta dan keluarga maupun untuk beribadah sesuai ajaran mereka. Selain itu mereka juga diwajibkan untuk bahu membahu bila ada serangan ke kota Madinah.

Perjanjian inilah yang kemudian disebut sebagai Piagam Madinah, yang merupakan salah satu puncak keberhasilan dakwah Rasulullah ﷺ di Madinah, dimana Islam dapat diterima dengan baik dan menjadikan Rasulullah sebagai pemimpin bagi semua kalangan dan membangun peradaban Islam dari semua sisi kehidupan yang dimulai dari Madinah.

Akhir dari Risalah

Semakin hari dakwah yang disampaikan Rasulullah semakin banyak pengikutnya. Meskipun tak mudah dan selalu mendapatkan rintangan dari kaum musyrikin maupun kaum munafik namun Rasulullah ﷺ dan para sahabat tak pernah menyerah hingga membuahkan hasil Islam diterima oleh berbagai kalangan.

Ketika seluruh jazirah Arab  telah tunduk pada Islam, maka Rasulullah beserta kaum muslimin pada tahun ke-10 Hijriyah hendak menunaikan ibadah haji ke Mekkah. Bersama seratus ribu kaum muslimin yang datang ke Madinah dari berbagai penjuru, mereka datang ke Mekkah yang disambut dengan gegap gempita oleh kaum muslimin Mekkah yang jumlahnya tak kalah banyaknya.

Saat di Arafah, Rasulullah ﷺ menyampaikan khutbahnya di Jabal Rahmah. Khutbahnya yang sangat masyhur namun mengisyaratkan  akan datangnya saat perpisahan Beliau dengan umatnya, sebagaimana yang disampaikannya pada pembukaan khutbah saat itu :

“Wahai manusia, dengarkanlah apa yang hendak kukatakan. Mungkin sehabis tahun ini aku tidak akan bertemu lagi dengan kalian di tempat ini untuk selama-lamanya…”

Kemudian pada bagian akhir khutbahnya, Rasulullah menyampaikan firman Allah SWT yang semakin menguatkan bahwa tugas yang diembannya telah selesai dan itu tandanya tiba masanya Beliau harus kembali kepada Allah yang telah mengutusnya :

“Hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah kucukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah ku ridhoi Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Maidah : 3)

Mendengar ayat ini, Umar dan Abu Bakar menangis tersedu-sedu mengingat betapa Rasulullah telah menyempurnakan risalahnya dan itu artinya telah semakin dekat Beliau akan kembali pada Rabbnya. Teringat kembali saat-saat mereka  bersama dalam pahit dan getir menemani Sang Rasul menyampaikan dakwahnya.

Ibadah haji yang pertama dan juga yang terakhir dilaksanakan oleh Rasulullah setelah Al Qur’an telah sempurna diturunkan ini kemudian dikenal dengan sebutan Haji Wada’ atau haji perpisahan.

Wafatnya Nabi Muhammad SAW Menuju Rafiqul A’la

Setelah Haji wada’ Rasulullah SAW mendapatkan kabar bahwa gubernur Syam Farwah bin Amr yang telah memeluk Islam, dibunuh dan disalib oleh tentara Romawi karena dianggap sebagai penghianat.  Nabi kemudian mempersiapkan pasukan untuk membalas perbuatan Tentara Romawi dan juga melindungi orang-orang yang ingin memeluk Islam. Pasukan muslim ini dipimpin oleh seorang pemuda belia bernama Usamah bin Zaid bin Haris sebagai panglima perangnya.

Ketika  mempersiapkan pasukan besar itu, Rasulullah kemudian jatuh sakit. Apalagi beredar desas-desus  banyak yang tidak setuju dengan penunjukkan Usamah sebagai panglima perang karena usianya yang masih begitu muda sehingga persiapan pasukan terkesan lambat tidak berjalan seperti yang diharapkan oleh Rasulullah. Karena begitu pentingnya urusan ini, maka meskipun dalam keadaan sakit Rasulullah berusaha untuk membangkitkan semangat pasukannya. Beliau kemudian bersabda :
“Wahai sekalian manusia, berangkatlah bersama pasukan Usamah, demi umurku. Jika kalian berkeberatan dengan kepemimpinannya, sungguh kalian telah berkeberatan dengan kepemimpinan ayahnya. Padahal ayahnya adalah orang yang sangat ahli dalam memimpin perang. Jika ayahnya saja sudah demikian, maka demikian pula anaknya.” (HR. Ibnu Asakir)

Setelah memberikan wejangan bagi pasukan muslim, sakit Rasulullah bertambah parah. Pasukan Usamah mulai bergerak menuju Syam, namun mereka berkemah sementara di penghujung Madinah menanti takdir Allah atas Rasulullah.  

Mendengar kabar sakit Rasulullah yang semakin parah membuat Usamah kembali ke Madinah untuk menemui Rasulullah di rumah Aisyah RA. Didapatinya keadaan Rasulullah sudah tak mampu berbicara namun tangannya masih menengadah ke langit untuk mendoakannya.  

Setelah bertemu dengan Usamah, kondisi Rasulullah sedikit membaik sehingga membuat bahagia para sahabat Rasulullah. Namun siapa sangka membaiknya Rasulullah ini adalah pertanda semakin dekatnya perpisahan dengan umat yang dicintainya.

Meskipun dalam keadaan yang masih lemah namun Rasulullah ﷺ dengan dibopong oleh Ali Bin Abi Thalib menemui jamaah yang tengah bersiap-siap untuk sholat dimana Abu Bakar sebagai imamnya. Selesai sholat Rasulullah kemudian bersabda : “…Wahai sekalian manusia, sungguh telah sampai kabar kepadaku bahwa kalian merasa khawatir ditinggal mati oleh nabi kalian. Apakah ada nabi yang hidup kekal sebelumnya sehingga aku mesti tetap hidup mendampingi kalian? Ketahuilah sesungguhnya aku akan bertemu dengan Tuhanku sebagaimana kalian pun akan menyusulku…”

Saat-saat terakhir telah tiba.  Dalam pangkuan Aisyah, Rasulullah berucap, “Aku tengah menuju Rafiqul A’la di surga.” Kemudian dijawab oleh Aisyah, “Sungguh engkau telah diberi pilihan dan engkau telah memilih demi yang telah mengutusmu dengan benar.” (HR. Ahmad)

Nabi Muhammad wafat pada hari senin tanggal 12 Rabiul awal di waktu dhuha,  tahun 11 Hijriyah, manusia pilihan langit dan bumi menghembuskan nafas terakhirnya. Hari yang memang jauh sebelumnya telah diketahui oleh Rasulullah sebagaimana pernah Beliau katakan : “ Itu adalah hari dimana aku dilahirkan, hari dimana aku hijrah dan hari dimana aku diwafatkan.”

Sumber : Buku “Muhammad Sang Yatim” Karya Prof.Dr. Muhammad Sameh Said