Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Kisah Hasan bin Ali bin Abi Thalib, Cucu Rasulullah Muhammad SAW

Sabtu, 08 Juni 2024 | 23:44 WIB Last Updated 2024-06-08T16:47:18Z
Daftar Isi [Tampilkan]
Kisah Hasan bin Ali bin Abi Thalib
Kisah Hasan bin Ali bin Abi Thalib Cucu Rasulullah Muhammad SAW

Hasan bin Ali adalah cucu Rasulullah yang didapatkan dari pernikahan putrinya dengan Khalifah Ali bin Abi Thalib. Hasan bin Ali merupakan putra pertama Khalifah Ali. Pernikahan antara Fatimah Az Zahra dengan Khalifah Ali bin Abi Thalib dikaruniai 3 orang putra dan 2 orang putri, yaitu Al Hasan, Al Husain, Muhsin, Zainab binti Ali, dan Ummu Kultsum binti Ali. Hasan bin Ali merupakan orang yang sangat dekat dengan kakeknya, Rasulullah SAW, ia juga orang yang dermawan, jujur, serta tutur katanya baik sehingga disenangi oleh banyak orang.

Hasan bin Ali pernah memegang tampuk kekhalifahan Khulafaur Rasyidin melanjutkan kepemimpinan ayahnya setelah sang ayah wafat dibunuh oleh seorang Khawarij, namun Hasan bin Ali hanya memerintah selama beberapa bulan saja karena pada saat itu situasi politik kaum muslimin sedang tidak stabil dan banyak terjadi konflik serta pemberontakan. Untuk memperbaiki kondisi politik saat itu, Hasan bin Ali menyerahkan tampuk kepemimpinan kaum muslimin kepada Muawiyah bin Abu Sufyan, seorang Gubernur Damaskus kala itu. Hal ini dilakukan oleh Hasan untuk meredakan beberapa pemberontakan, dengan perjanjian bahwa setelah kepemimpinan Muawiyah, Khalifah kaum muslimin harus dipilih berdasarkan musyawarah kaum muslimin. Tahun dimana terjadinya penyerahan kekuasaan oleh Hasan bin Ali kepada Muawiyah bin Abu Sufyan disebut dengan Amul Jama’ah yang berarti tahun penyatuan, karena kaum muslimin bersatu kembali setelah beberapa waktu terpecah-belah. 

Biografi Hasan bin Ali bin Abi Thalib 

Hasan bin Ali Abi Thalib lahir pada bulan yang penuh berkah yaitu bulan Ramadhan, ia lahir pada tanggal 15 Ramadhan tahun kedua Hijriyah atau tahun 624 Masehi. Rasulullah tampak sangat bahagia dengan kelahiran cucu pertama beliau dari putri yang sangat dicintainya, yaitu Fatimah Az Zahra. Rasulullah menyambut kelahiran Hasan bin Ali dengan memperdengarkan adzan kepada Hasan. 

Ali bin Abi Thalib sebenarnya ingin memberikan nama putranya itu dengan nama Harb, karena pada saat itu nama Harb merupakan nama yang populer di kalangan bangsa arab, Ali bin Abi Thalib memberikan nama tersebut dengan harapan bahwa putranya itu akan menjadi seorang pejuang pemberani yang memperjuangkan agama Allah. Namun, Rasulullah ingin memberikan nama cucu pertamanya tersebut dengan nama Hasan yang memiliki arti keindahan atau kebaikan. Hasan bin Ali juga memiliki julukan seperti As Sibthi, As Sayyid, Az Zaki, Al Mujtaba, dan At Taqi. 

Hasan bin Ali sangat dekat dengan kakeknya, Rasulullah Saw, karena merupakan kebahagiaan tersendiri bagi Rasulullah yang tidak pernah memiliki anak laki-laki dan dapat bermain dengan seorang anak laki-laki ketika usia beliau sudah tidak muda lagi. Rasulullah sangat menyayangi Al Hasan, sampai-sampai Rasulullah tidak tahan melihat Al Hasan menangis. Rasulullah sering sekali membiarkan Al Hasan menaiki punggungnya ketika sedang sujud dalam shalat. Ketika Rasulullah wafat, Al Hasan masih sangat kecil, yaitu masih berumur 7 tahun. 

Sejak kecil, Hasan bin Ali merupakan seorang anak yang sangat cerdas. Dia mempelajari Al Qur’an, hadits, dan tafsir, ia mendapat bimbingan dalam mempelajari agama Islam langsung dari ayahnya yang terkenal dengan julukan babul ilmi. Selain itu, Hasan bin Ali juga diajarkan oleh sang kakek, Rasulullah Saw beserta para keluarga dan sahabat nabi yang lainnya. Tak heran, Al Hasan tumbuh menjadi sosok laki-laki yang cerdas berakhlak mulia yang mewarisi kesempurnaan akhlak dari sang kakek, Rasulullah Saw. 

Ciri-ciri fisik Hasan bin Ali juga sangat mirip dengan ayah dan kakeknya. Washil bin Atha’ pernah menuturkan tentang Hasan bin Ali “Hasan bin Ali memiliki wajah para nabi dan keagungan para raja”. Hasan bin Ali memiliki wajah yang lebar, tampan, putih agak kemerahan, rambut kepala yang berombak, janggutnya lebar dengan dada dan bahu yang bidang, tulang-tulangnya besar, kedua telapak tangan dan kakinya lebar, badannya kekar, serta memiliki suara yang nyaring dan merdu. 

Akhlak Hasan bin Ali   

Sebagai sosok cucu nabi yang pertama, Hasan bin Ali memiliki perangai yang zuhud, yang lebih mementingkan kehidupan setelah mati daripada dunia, dan seorang ahli ibadah yang begitu taat. Hasan bin Ali pernah melaksanakan ibadah haji dengan berjalan kaki selama dua puluh lima kali. Hasan bin Ali selalu menangis jika membicarakan mengenai kematian, kehidupan di alam kubur, serta hari kebangkitan. 

Hasan bin Ali merupakan sosok yang sangat dihormati dan disanjung ditengah-tengah masyarakat arab ketika itu. Selain karena nasabnya sebagai keturunan Rasulullah Saw, Hasan juga merupakan orang yang rendah hati, tidak pernah ingin diperlakukan begitu terhormat oleh masyarakat, dermawan, jujur, serta baik perkataannya. Begitu banyak riwayat yang membuktikan kedermawanan Hasan bin Ali. Beliau selalu memberikan apa yang dimilikinya kepada orang-orang yang sangat membutuhkan, bahkan sebelum mereka memintanya. Hasan bin Ali senantiasa menyedekahkan hartanya sampai-sampai tidak memikirkan dirinya yang sebenarnya bukanlah orang yang bergelimang harta dan kemewahan dunia. 

Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa Hasan bin Ali pernah bersedekah kepada seorang penyair, kemudian orang yang duduk disampingnya menanggapi tindakan Hasan tersebut dengan berkata “Subhanallah, apakah engkau memberi si penyair yang bermaksiat kepada Allah ?”, Hasan berkata “Wahai hamba Allah, yang terbaik dari uangmu adalah apa yang engkau dermakan untuk melindungi kehormatan dirimu, ini perbuatan baik untuk menghindari kejahatan”. Bahkan Hasan bin Ali pernah memberikan hartanya sampai tak tersisa lagi di lemarinya. 

Peranan Hasan bin Ali dalam Perkembangan Politik Islam 

Sejak masa Khalifah Utsman bin Affan, Hasan bin Ali telah tumbuh menjadi pemuda hebat yang memikirkan kondisi umat Islam, dimana saat itu banyak terjadi konflik, kekacauan, dan pemberontakan. Pada saat itu juga banyak terjadi fitnah yang berujung pada terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan RA. Karena kecerdasannya, Ali bin Abi Thalib merupakan kandidat yang cocok untuk menggantikan Khalifah Utsman bin Affan untuk memimpin dunia Islam. Ali bin Abi Thalib pun naik tahta sebagai Khalifah ke-4 Khulafaur Rasyidin. Namun salah seorang gubernur wilayah pada masa Khalifah Utsman, yaitu Muawiyah bin Abi Sufyan yang saat itu menjabat sebagai gubernur Negeri Syam, menolak untuk membaiat Ali bin Abi Thalib sebagai Khalifah sampai kasus kematian Utsman bin Affan diusut tuntas. 

Sebagai seorang putra Khalifah, Hasan bin Ali memahami betul bagaimana kondisi kritis dunia Islam yang terjadi pada saat itu. Ketidaksetujuan Muawiyah bin Abi Sufyan terhadap pembaiatan Ali bin Abi Thalib sebagai Khalifah memicu terjadinya peperangan antara Ali bin Abi Thalib dengan Muawiyah bin Abi Sufyan. Peperangan ini berujung dengan diadakannya perjanjian damai antara pihak Ali dengan pihak Muawiyah, yang disebut dengan peristiwa Tahkim. Namun, ada sekelompok orang dari pihak Ali maupun pihak Muawiyah yang tidak setuju dengan diadakannya perjanjian damai, kelompok ini disebut dengan kelompok Khawarij, yang berarti telah keluar. Artinya, mereka tidak mendukung Ali maupun Muawiyah, bahkan mereka memusuhi keduanya. Kelompok Khawarij lalu merencanakan pembunuhan terhadap Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah bin Abi Sufyan, dan Muawiyah berhasil lolos dari upaya pembunuhan tersebut sedangkan Ali bin Abi Thalib terbunuh.   

Pada malam ke-10 bulan Ramadhan tahun 40 Hijriyah, Khalifah Ali bin Abi Thalib wafat dibunuh oleh seorang Khawarij yang bernama Abdurrahman bin Muljam. Abdurrahman bin Muljam melakukan pembunuhan tersebut dengan mengatakan “Hukum itu milik Allah, bukan milikmu, wahai Ali”. Abdurrahman bin Muljam menebas kepala Ali bin Abi Thalib dengan pedang. Hasan dan adiknya, Husein, serta beberapa keluarga lainnya bergegas untuk mengurusi jenazah Ali bin Abi Thalib. Mereka segera memandikan, mensholatkan, dan mengkafani jenazahnya. Shalat jenazah untuk sang khalifah diimami langsung oleh putra beliau, Hasan bin Ali. 

Setelah wafatnya Khalifah Ali bin Abi Thalib, para pengikut Ali bin Abi Thalib sepakat untuk mengangkat Hasan bin Ali sebagai khalifah umat Islam berikutnya. Sebenarnya ada dua sosok yang sangat cocok untuk menggantikan Khalifah Ali pada saat itu, yaitu putra Khalifah Ali, Hasan bin Ali, dan Gubernur Syam, Muawiyah bin Abu Sufyan. Saat umat Islam mendesak membaiat Hasan bin Ali sebagai Khalifah, Hasan berkata “Kalian menyatakan janji setia padaku untuk mendengar aku dan taat padaku, juga memerangi orang yang aku perangi, juga berdamai dengan orang yang aku ajak damai”, dengan pernyataan tersebut, orang-orang menjadi ragu terhadap Hasan dan mulai menemui Husain untuk diba’at, Husain bin Ali berkata “Aku berlindung kepada Allah dari menerima bai’at selama Hasan masih hidup”.  

Para pengikut Ali pun tidak punya pilihan selain kembali kepada Hasan untuk memintanya menjadi Khalifah. Hasan menerima tawaran tersebut dengan beberapa syarat yang telah diajukkan. Setelah Hasan menerima baiat sebagai Khalifah, ia menulis surat kepada Muawiyah bin Abu Sufyan, Muawiyah kemudian segera menemui Hasan dan mereka berbicara empat mata. Perundingan antara Hasan dengan Muawiyah menghasilkan sebuah keputusan damai antara Hasan bin Ali dengan Muawiyah bin Abu Sufyan. Hasan bin Ali sepakat untuk menyerahkan jabatan kekhalifahan kepada Muawiyah bin Abu Sufyan dengan perjanjian bahwa ketika Muawiyah telah wafat, jabatan kekhalifahan harus dikembalikan ke tangan Hasan bin Ali. Hasan bin Ali melakukan hal tersebut untuk mencegah terjadinya pertumpahan darah kaum muslimin akibat konflik yang terjadi antara kelompok dalam kaum muslimin. Tahun penyerahan kekuasaan dari tangan Hasan bin Ali kepada Muawiyah disebut Amul Jama’ah atau tahun penyatuan. 

Wafatnya Hasan bin Ali bin Abi Thalib 

Hasan bin Ali wafat pada tanggal 7 bulan Shafar tahun 49 Hijriyah. Hasan bin Ali wafat karena ada racun yang diberikan kepadanya, kejadian ini sesuai dengan perkataan Hasan kepada saudaranya Husain “Wahai saudaraku, aku akan meninggalkanmu dan bertemu dengan Tuhanku. Aku telah diberikan racun untuk diminum, dan telah mengeluarkan hati (liver)ku ke dalam baskom. Aku mengetahui siapa yang meracuniku dan darimana aku dibuat tak berdaya terhadap tindakan penipuan ini, aku akan melawannya di hadapan Allah Azza wa Jalla”. 

Referensi : 

[1] Skripsi “Habibah., U. 2021. Sejarah Konflik Kekhalifahan antara Hasan bin Ali dengan Muawiyah bin Abu Sufyan dan Dampaknya pada Kaum Muslimin Tahun 40 Hijriyah. Fakultas Adab dan Humaniora. Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya”.