Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Kisah Aisyah binti Abu Bakar Istri Rasulullah

Selasa, 11 Juni 2024 | 21:54 WIB Last Updated 2024-06-11T14:54:42Z
Daftar Isi [Tampilkan]
Kisah Aisyah binti Abu Bakar Istri Rasulullah
Foto Ilustrasi | Photo by mostafa meraji on Unsplash

Aisyah binti Abu Bakar merupakan sahabat sekaligus istri ketiga Rasulullah ﷺ. Ia merupakan putri dari sahabat terdekat Rasulullah Muhammad SAW, yaitu Abu Bakar Ash Shiddiq. Aisyah lahir di Mekkah pada bulan Syawal tahun ke-9 sebelum hijrahnya Rasul ke Kota Madinah atau pada bulan Juli tahun 614 Masehi. Nama lengkapnya adalah Aisyah binti Abu Bakar bin Abu Quhafah Utsman bin Amir bin Ka’ab bin Sa'ad bin Taim bin Murrah bin Ka’ab. Sedangkan dari nasab ibunya, ia bernama lengkap Aisyah binti Ummu Ruman binti Umair bin Dahman bin Al Harits bin Ghanim bin Malik bin Kinanah Aisyah terlahir dari pasangan yang mulia yaitu dari Abu Bakar Ash Shiddiq dan Ummu Ruman. Aisyah berasal dari garis keturunan yang mulia, sebab garis keturunannya bertemu dengan garis keturunan Nabi Muhammad, yaitu pada kakek ketujuh Murrah bin Ka'ab.

Aisyah juga berasal dari suku Arab Quraisy yang cukup terpandang, yaitu Bani Taim dari pihak Abu Bakar dan Bani Kinanah dari pihak Ummu Ruman. Bani Tayim merupakan salah satu kabilah Quraisy yang cukup terpandang, terkenal dermawan dan suka menolong. Maka tak heran sejarah mencatat Aisyah sebagai wanita yang pemberani, tegas, dan terkenal akan kelembutannya sebagai istri Rasulullah ﷺ dan teladan bagi kaum Hawa. 

Aisyah sudah menunjukkan kecerdasannya sejak ia masih kecil. Ketika Rasulullah ﷺ berhijrah ke Kota Madinah, Aisyah telah berumur delapan tahun, dan ia bisa menghafal dengan baik semua peristiwa yang dilalui oleh Nabi ketika hijrahnya. Tidak seorangpun sahabat yang mampu mengingat urutan semua peristiwa hijrah Nabi yang lebih tepat dan lengkap dibandingkan Aisyah. 

Pernikahan Aisyah Dengan Rasulullah ﷺ

Aisyah merupakan istri ketiga Rasulullah ﷺ yang dinikahi setelah wafatnya Khadijah. Rasulullah ﷺ menikahi Aisyah yang saat itu baru berusia 6 tahun, namun Aisyah hidup serumah dengan Rasulullah ﷺ ketika berumur sembilan tahun, 18 bulan setelah hijrahnya Rasulullah ﷺ di Kota Madinah. Ada Pula yang menyatakan bahwa Rasulullah menikahi Aisyah ketika berusia diatas 10 tahun dan berkumpul dengan Rasulullah ﷺ ketika berusia 13 tahun. 

Pernikahan Aisyah dengan Rasulullah ﷺ merupakan pernikahan yang telah diwahyukan. Sebelum menikahi Aisyah, Rasulullah ﷺ pernah bersabda kepadanya “Aku pernah melihat engkau dalam mimpiku 3 hari berturut-turut. Ada seorang malaikat yang datang kepadaku dengan membawa gambarmu yang ditutup dengan secarik kain sutera. Malaikat itu berkata ‘Ini adalah isterimu’. Aku lalu membuka kain yang menutupi wajahmu. Ketika ternyata perempuan itu adalah engkau, aku lalu berkata: Jika benar mimpi ini dari Allah, kelak pasti akan menjadi kenyataan”. (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim).    

Kehidupan rumah tangga Aisyah dengan Rasulullah sangat jauh dari kenikmatan-kenikmatan duniawi dan mereka hidup dengan sederhana. Rumah yang ditinggali Aisyah dan Rasulullah merupakan rumah yang cukup megah bagi mereka. Dindingnya terbuat dari tanah liat, dan atap yang terbuat dari pelepah daun kurma yang sangat rendah sehingga setiap orang yang berdiri dapat menyentuhnya.

Rasulullah ﷺ menjalani kehidupan pernikahannya dengan Aisyah dengan sangat sederhana. Mereka sangat jauh dari pakaian yang bagus, perhiasan mewah, rumah mewah, serta makanan yang enak. Meskipun hidup sangat sederhana, Aisyah tidak pernah mengeluh dan tetap bersyukur serta qana’ah dalam menerima karunia dari Allah. Ketika Rasulullah ﷺ telah wafat, Aisyah pernah ikut dalam pertikaian politik yang menentang kepemimpinan Ali bin Abi Thalib atas Kekhalifahan Islam. Ketika itu, ia bersekutu dengan Thalhah bin Ubaidillah dan Zubair bin Al Awwam yang berujung pada  peperangan Jamal sehingga menyebabkan tewasnya Thalhah dan Zubair.   

Kecerdasan dan Kemuliaan Sayyidah Aisyah      

Aisyah merupakan wanita cerdas yang pernah dinikahi Rasulullah ﷺ. Ia memiliki ingatan yang sangat tajam. Ia selalu bertanya segala hal ketika bersama Rasulullah. Ketika Rasulullah ﷺ telah wafat, ia mulai menyebarkan ilmu dan pengetahuannya yang ia dapat ketika masih bersama Rasulullah ﷺ. Aisyah juga meriwayatkan beberapa hadits dari Rasulullah ﷺ. 

Kontribusi Sayyidah Aisyah dalam Tafsir Al-Qur'an

Aisyah telah banyak mendengar berbagai ayat dari Rasulullah ﷺ, bahkan ia juga melihat langsung turunnya wahyu kepada Rasulullah ﷺ. Aisyah memiliki kemampuan dalam menafsirkan ayat-ayat Al Qur’an. Aisyah memiliki kemampuan yang menjadikannya sebagai ahli tafsir, ia pandai dalam menguasai syair-syair bahasa Arab. Selain itu, ia juga menguasai ilmu retorika dan peribahasa. Dengan bimbingan langsung dari Rasulullah ﷺ, menjadikan Aisyah sebagai seorang pentafsir yang handal, sehingga banyak para dari para sahabat yang bertanya kepadanya tentang tafsiran ayat-ayat al Qur’an setelah Rasulullah ﷺ wafat. 

Sayyidah Aisyah Banyak Meriwayatkan Hadits Rasulullah ﷺ

Semasa hidupnya, Aisyah sering mendengar hadits dari Rasulullah ﷺ secara langsung. Jika ada hal-hal yang tidak dipahami, maka ia akan langsung menanyakannya kepada Rasulullah ﷺ. Banyak juga para perawi hadits yang datang kepadanya untuk memastikan kebenaran suatu hadits karena kualitasnya begitu terjamin. 

Ketika terdapat perselisihan diantara para ahli hadits, maka mereka akan langsung menanyakan penjelasannya kepada Aisyah. Berkaitan dengan hal itu, Abu Musa Al Asy’ari pernah berkata “Tidak ada sesuatu yang kita perselisihkan diantara para sahabat Rasul tentang suatu hadits. Kemudian kita menanyakannya kepada Aisyah kecuali kita akan memperoleh darinya kepastian yang tak perlu lagi diragukan”.  

Dengan ketajaman ingatannya dan kecerdasannya, Aisyah telah meriwayatkan ribuan hadits dari Nabi Muhammad. Dalam Buku Mausu’ah Ummul Mu’minun Aisyah binti Abu Bakar, disebutkan perbandingan periwayatan hadits diantara para Ahlul Bait. Tercatat bahwa Aisyah menempati posisi pertama dengan sekitar 5636 hadits yang telah diriwayatkan. 

Sayyidah Aisyah pandai dalam Ilmu Fiqih   

Selain ilmu tafsir dan hadits, Aisyah juga pandai dalam ilmu Fiqih. Ia merupakan salah satu orang yang memberikan fatwa pada masa pemerintahan Khulafaur Rasyidin. Ia pernah ditanya tentang sikap dan pendiriannya tentang Nikah Mut’ah, lalu ia menjawab “Diantara aku dan masalah itu adalah Al Qur’an”. Lalu ia membaca ayat Al Qur’an surat Al mukminun ayat 5 sampai 7.  Abu Salamah bin Abdurrahman pernah berkata “Aku tidak melihat seorangpun yang lebih mengetahui sunnah-sunnah Rasul, tidak juga yang lebih mendalam pemahamannya jika berhujjah dan tidak ada seorangpun yang lebih tahu sebab turunnya ayat selain Aisyah”. 

Sayyidah Aisyah menguasai Ilmu Kedokteran

Disamping pandai dalam ilmu-ilmu keagamaan, Aisyah juga pandai dalam ilmu pengobatan. Suatu ketika ia pernah ditanya oleh Urwah bin Zubair “Wahai Ummul Mu’minin, Aku memaklumi kepandaianmu dalam bidang fiqih, sebab aku berfikir engkau adalah isteri Rasulullah ﷺ dan putri Abu Bakar. Aku juga memaklumi kepandaianmu dalam bidang sastra dan sejarah bangsa Arab karena engkau adalah putri dari Abu Bakar yang ahli dalam hal tersebut. Namun aku sungguh takjub dengan kepandaianmu dalam bidang pengobatan, darimana engkau mendapatkan semua itu ?”. lalu Aisyah menjelaskan “wahai Urwah, sesungguhnya Rasul sering menderita sakit, maka para dokter dari Bangsa Arab serta non-Arab datang berkunjung untuk memberikan nasihat tentang kesehatan dan obat-obatan. Dari sinilah aku memperoleh pengetahuan tentang pengobatan”. 

Wafatnya Sayyidah Aisyah 

Aisyah RA. wafat pada hari selasa tanggal 17 Ramadhan tahun 58 Hijriyah ketika ia berusia 67 tahun. Ia wafat di era pemerintahan Khalifah bin Abu Sufyan dan ia dimakamkan di pemakaman Al Baqi’      

Referensi : 
[1] Tidjani., A. 2016. Aisyah binti Abu Bakar RA. Wanita Istimewa yang Melampaui Zamannya. Journal of Islamic Studies. 1 (1) : 2541-1675.  
[2] Yusefri., WS. 2020. Kecenderungan Aisyah RA. Dalam Istinbath Hadits Hadits Ahkam. Jurnal Studi Al Qur’an Dan Hadits. 4 (2) : 2850-3190.