Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Kisah Sa’id bin Zaid Sahabat Rasulullah Yang Dijamin Masuk Surga

Selasa, 11 Juni 2024 | 14:38 WIB Last Updated 2024-06-11T07:38:41Z
Daftar Isi [Tampilkan]
Kisah Sa’id bin Zaid Sahabat Rasulullah yang di jamin masuk Surga
Ilustrasi Sa’id bin Zaid

Sa’id bin Zaid merupakan salah satu dari sepuluh sahabat Nabi yang dijamin masuk surga. Sa’id bin Zaid merupakan putra dari Zaid bin Amru bin Nufail Al Adawi. Ayahnya, Zaid bin Amru merupakan seorang hamba yang tidak pernah bersujud kepada berhala, ia mengimani agama Allah yang dibawa oleh Nabi Ibrahim AS meskipun Nabi Muhammad belum diutus sebagai Rasul waktu itu.  

Zaid bin Amru merupakan sepupu dari Umar bin Khattab. Pada suatu ketika ia menyeru penduduk Mekkah untuk meninggalkan penyembahan terhadap berhala-berhala dan menyembah hanya kepada Allah. Mengetahui hal itu, pamannya Al Khattab (ayah Umar) kemudian menyiksanya dan mengusirnya dari Mekkah, ia pun pergi menuju ke Negeri Syam. Ketika berada di Negeri Syam, seorang pendeta mengatakan kepadanya bahwa agama yang dibawa oleh Ibrahim AS akan diperbarui oleh seorang yang berasal dari Mekkah. Pendeta itu pun memerintahkan Zaid bin Amru untuk pergi ke Mekkah. Ketika Zaid bin Amru pergi ke Mekkah untuk bertemu dengan Rasulullah, di dalam perjalanannya ia dibunuh oleh orang kafir. Ketika akan menghembuskan nafas terakhirnya, ia berdoa “Ya Allah, jika Engkau tidak menghendaki kebaikan ini (agama islam) untukku, maka janganlah Engkau halangi anakku (Sa’id) darinya”. 

Sa’id bin Zaid dijuluki sebagai putra Al Hanif. Al Hanif berarti orang yang melakukan amalan Hanifiyah, yaitu hanya bersujud kepada Allah semata. Sa’id bin Zaid merupakan golongan orang-orang yang masuk Islam pada periode awal. Ia memeluk Islam sebelum Nabi berdakwah di rumah Al Arqam bin Abi Al Arqam. Sa’id bin Zaid juga turut serta dalam peperangan Badar bersama Rasulullah dan beberapa peperangan setelahnya. Ia bahkan turut andil dalam Peperangan Yarmuk dan Pembebasan Damaskus. Sa’id bin Zaid juga meriwayatkan beberapa hadits dari Rasulullah, meskipun hanya berjumlah 48 hadits. 

Rasulullah pernah bersabda mengenai Sa’id dan beberapa sahabat lainnya “Abu Bakar disurga. Umar di surga. Utsman di surga. Ali di surga. Thalhah di surga. Az Zubair di surga. Abdurrahman bin Auf di surga. Sa’ad bin abi Waqqash di surga. Sa’id bin Zaid di surga. Dan Abu Ubaidah bin al Jarrah di surga”. (HR. Ahmad dan At Tirmidzi).    

Nasab Sa'id Bin Zaid

Sa’id bin Zaid memiliki nama asli Sa’id bin Zaid bin Amru bin Nufail bin Abdul Uzza Al Adawi. Ia dilahirkan di Mekkah 22 tahun sebelum Nabi hijrah ke Yatsrib (Madinah). Ia masih satu kabilah dengan Umar bin Al Khattab Radhiyallahu ‘Anhu. Ia masuk Islam melalui perantara Abu Bakar Ash Shiddiq. 

Sa’id bin Zaid menikahi Fathimah binti Al Khattab, adik dari Umar bin Al Khattab. Sementara itu, Umar bin Al Khattab menikahi saudari Sa’id, yaitu Atikah binti Zaid. Ketika Sa’id bin Zaid berada di Mekkah, ia mengetahui bahwa seorang bernama Muhammad telah diutus sebagai Rasulullah. Kemudian ia dan istrinya Fathimah binti Al Khattab segera menyatakan keislamannya kepada Rasulullah. 

Sa’id bin Zaid merahasiakan keislamannya dari kerabat dan keluarganya, namun ia mendapatkan berbagai siksaan dari keluarganya ketika keislamannya telah terekspos. Suatu hari, Umar bin Khattab mengetahui akan keislaman adiknya Fatimah dan suaminya Sa’id bin Zaid. Umar lantas pergi menuju kediaman Sa’id dengan niat untuk membunuhnya. Sesampainya di rumah Sa’id, Umar murka luar biasa dan memukuli adik iparnya itu. Namun hal itu tidak membuat Fathimah dan Sa’id bin Zaid meninggalkan agama islam. Umar lalu menyuruh keduanya untuk membaca lagi ayat suci Al Qur’an tadi dan membuat Umar sangat terpesona dengan lantunan syair ayat Al Qur’an. Umar kemudian datang menemui Rasulullah untuk menyatakan keislamannya. Hal itu kemudian menjadi titik awal keislaman Umar bin Khattab dan memperkuat eksistensi Islam karena Umar merupakan tokoh yang sangat disegani. 

Sa’id dan istrinya Fathimah ikut serta bersama Rasulullah ketika kaum muslimin hijrah ke Madinah. Menjelang peperangan Badar, Rasulullah mengutus Sa’id bersama Thalhah bin Ubaidillah untuk memata-matai persiapan pasukan kaum musyrikin. 

Sa’id bin Zaid juga ikut menemani Rasulullah ketika bersembunyi di gua Hira bersama para sahabat lainnya. Ketika Gunung Hira bergetar, Rasulullah bersabda “Tenanglah wahai Hira, karena sesungguhnya tidak ada yang berada di atasmu kecuali seorang Nabi, seorang yang jujur (Ash Shiddiq), dan seorang yang syahid”.  

Kepahlawanan Sa’id bin Zaid 

Sa’id bin Zaid ikut serta dalam beberapa peperangan yang dilalui bersama Rasulullah, begitupun dengan peperangan setelahnya. Ia juga ikut andil dalam Peperangan Yarmuk melawan Kekaisaran Byzantium. Peperangan Yarmuk merupakan peperangan yang menentukan nasib Negeri Syam.

Peperangan ini berlangsung di era Kekhalifahan Umar bin Al Khattab dan dipimpin langsung oleh sahabat Abu Ubaidah bin Al Jarrah. Jumlah pasukan Byzantium lebih banyak dibandingkan dengan pasukan kaum muslimin yaitu sekitar 120.000 pasukan dan kaum muslimin hanya 24.000 pasukan. 

Ketika itu, Abu Ubaidah bin Al Jarrah berdiri dan berkhutbah di hadapan pasukannya “Wahai hamba-hamba Allah, tolonglah agama Allah, Allah pasti akan menolong kalian dan meneguhkan kaki-kaki kalian. Bersabarlah, sesungguhnya kesabaran akan menyelamatkan kalian dari kekufuran dan akan menyebabkan kalian mendapatkan Ridha Allah”. Namun, berkat pertolongan Allah SWT, pasukan kaum muslimin berhasil mengalahkan pasukan Byzantium dan merebut wilayah Syam. Kemenangan ini sekaligus menjadi awal tersebarnya cahaya islam di seluruh penjuru Negeri Syam.   

Sa’id bin Zaid ketika itu bertempur dengan hebat dan gagah berani. Ia mampu menghabisi pasukan Byzantium satu per satu. Melihat ketangguhan dan keberanian Sa’id bin Zaid, panglima Abu Ubaidah bin Al Jarrah kemudian menyerahkan misi penaklukkan Kota Damaskus kepada Sa’id bin Zaid. Abu Ubaidah bin Al Jarrah juga mengamanahkan Sa’id bin Zaid sebagai walikota Damaskus saat itu.    


Kemustajaban Doa Sa’id bin Zaid  

Salah satu keutamaan yang dimiliki oleh Sa’id bin Zaid adalah doanya yang mustajab. Pada suatu hari, ada seorang wanita bernama Arwa binti Aus yang memfitnah Sa’id. Wanita itu mengatakan bahwa Sa’id telah mengambil tanah miliknya dan memasukan tanah tersebut ke dalam tanah milik Sa’id. Fitnah yang dikatakan oleh wanita tersebut benar-benar membuat Sa’id sakit hati, sehingga Sa’id pun mendoakannya “Ya Allah, jika dia berdusta, maka butakanlah matanya dan wafatkanlah ia di tanah nya tersebut”. 

Berselang beberapa hari, wanita tersebut mengalami kebutaan. Wanita itu berkata “Aku telah tertimpa musibah karena doa yang diucapkan Sa’id”, ia pun berjalan dengan meraba-raba dinding. Ketika ia berjalan di tanahnya, ia terjatuh ke dalam sumur dan kemudian wafat disana. 

Wafatnya Sa’id bin Zaid 

Sa’id bin Zaid wafat pada tahun 50 hijriyah, tepatnya pada era Kekhalifahan Muawiyah bin Abu Sufyan dari Dinasti Umayyah, saat itu ia berusia 70 tahun. Ia wafat di daerah bernama Aqiq dan Jenazahnya lalu dibawa ke Madinah dan dikuburkan di pemakaman Al Baqi’ oleh Sa’ad bin Abi Waqqash dan Abdullah bin Umar, keponakannya sendiri.