Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Kisah Nabi Ismail AS dan Sejarah Awal Ibadah Qurban

Selasa, 11 Juni 2024 | 14:14 WIB Last Updated 2024-06-11T07:24:06Z
Daftar Isi [Tampilkan]

Kisah Nabi Ismail AS
Foto oleh Pixabay

Nabi Ismail adalah salah satu Nabi utusan Allah yang memiliki ketaatan luar biasa terhadap perintah Allah. Nabi Ismail AS merupakan putra dari Nabi Ibrahim AS melalui istri keduanya yang bernama Hajar. Ketika berumur 13 tahun, Nabi Ismail harus menerima dengan ikhlas bahwa ayahnya, Nabi Ibrahim, diperintahkan untuk menyembelihnya. Nabi Ibrahim adalah seorang putera dari ahli pembuat patung yang hidup di wilayah Babilonia, Irak. Meskipun ayahnya merupakan pemahat patung, Nabi Ibrahim tidak pernah menjadi bagian dari para penyembah patung tersebut. Dalam sejarah hidupnya, Nabi Ibrahim pernah dieksekusi oleh seorang Raja zalim yang bernama Namrud. Raja Namrud menyiksa Nabi Ibrahim dengan melemparkannya ke dalam kobaran api. Nabi Ibrahim digelari sebagai Khalilullah (kekasih Allah).  

Kisah Nabi Ismail dan nabi Ibrahim AS  

Nabi Ibrahim adalah seorang Nabi utusan Allah yang diutus untuk berdakwah kepada seorang Raja zalim bernama Raja Namrud yang menyembah berhala. Nabi Ibrahim dijuluki juga sebagai bapak para nabi karena banyaknya nabi dan rasul yang berasal dari keturunannya. Nabi Ibrahim lahir pada 1997 SM di Babilonia, Irak dan wafat pada 1822 SM. Ia dimakamkan di Kota Al Khalil, Palestina. Nabi Ibrahim termasuk ke dalam kelompok Ulul Azmi, yang merupakan para nabi dan rasul pilihan yang diberi ketabahan dan kesabaran dalam mendakwahkan agama Allah. Nabi Ibrahim memiliki seorang ayah bernama Azar yang berprofesi sebagai pembuat patung kepada Raja Namrud. 

Ketika masih kecil, Nabi Ibrahim tidak mengetahui siapa tuhan yang pantas disembah. Ketika ia beranjak remaja, ia mengira bahwa benda-benda langit adalah sesuatu yang pantas disembah. Namun Allah kemudian mewahyukan kepadanya bahwa tuhan yang patut disembah adalah Allah SWT, tuhan semesta alam. Setelah benar-benar yakin akan keesaan Allah, Nabi Ibrahim kemudian berjuang untuk mendakwahkan agama Allah dengan keimanan yang mantap. 

Raja Namrud adalah seorang raja yang mengajak rakyatnya untuk menyembah berhala. Mengetahui akan hal itu, Nabi Ibrahim bertekad untuk menyadarkan masyarakat akan Keesaan Allah dan bahwa patung-patung yang dibuat oleh tangan mereka bukanlah suatu yang pantas disembah. Pada suatu hari, secara diam-diam Nabi Ibrahim menghancurkan patung-patung berhala sesembahan Raja Namrud. Ia meruntuhkan semua patung berhala kecuali patung yang paling besar dan meletakkan kapak di dekat patung besar tersebut. Ketika Raja Namrud dan para petinggi kerajaan mengetahui bahwa patung-patung berhala mereka telah dihancurkan, mereka sangat marah dan menuduh Ibrahim yang melakukannya karena Ibrahim adalah satu-satunya orang yang tidak mau menyembah patung berhala. 

Raja Namrud dan jajarannya kemudian membawa Ibrahim dan mengintrogasinya. Mereka berkata ”Wahai Ibrahim, apakah kamu yang melakukan ini terhadap sesembahan kami ?”,  Ibrahim menjawab “Yang melakukannya adalah patung yang paling besar itu, coba tanyakan kepadanya jika memang dapat berbicara”, mereka berkata “Sesungguhnya kamu telah menyadari bahwa berhala-berhala itu memang tidak dapat berbicara”, Ibrahim berkata “Lalu mengapa kalian masih menyembah mereka padahal mereka tidak dapat berbicara ?”. Mendengar pernyataan dari Ibrahim tersebut, Raja Namrud kemudian memerintahkan agar melemparkan Ibrahim ke dalam kobaran api. 

Ketika Nabi Ibrahim dilemparkan ke dalam kobaran api, malaikat datang untuk memberikan bantuan kepada Nabi Ibrahim, namun Nabi Ibrahim berkata “Cukuplah yang Maha Melindungi yang memberikan pertolongan kepadaku”. Kemudian api yang membakar Nabi Ibrahim menjadi dingin dan tak mampu membakar tubuh Nabi Ibrahim. Nabi Ibrahim pun selamat dari upaya pembakaran tersebut.  

Setelah melihat Ibrahim selamat dari perapian, Raja Namrud takut jika para pengikutnya berpaling darinya dan menjadi pengikut Nabi Ibrahim. Raja Namrud pun menantang Nabi Ibrahim dengan mengajukan beberapa pertanyaan untuk membuktikan keberadaan Allah, namun Raja Namrud tak mampu membantah lagi argumen Nabi Ibrahim. Sebagian rakyat Raja Namrud kemudian tidak mempercayai Raja Namrud, mereka memisahkan diri dan membangun pemerintahan masing-masing, sebagian lagi ada yang menjadi pengikut Nabi Ibrahim. 

Nabi Ibrahim kemudian membawa kaumnya untuk berhijrah ke negeri yang lain. Nabi Ibrahim sempat mengajak ayahnya untuk ikut bersamanya dan mengikuti jalan Allah, namun ayahnya tetap menolak. Nabi Ibrahim bersama istrinya Sarah, beserta kaumnya kemudian berhijrah ke Palestina. Namun Palestina ketika itu sedang ditimpa kemarau panjang sehingga memaksa Nabi Ibrahim untuk berhijrah ke Negeri Mesir. Setelah beberapa tahun, Nabi Ibrahim pun kembali ke Palestina. Nabi Ibrahim sangat menginginkan seorang putra, namun istrinya Sarah adalah wanita yang mandul dan sudah tua. Mengetahui keinginan suaminya yang menginginkan seorang anak, maka Sarah memberikan pembantunya yang bernama Hajar untuk dinikahi oleh Nabi Ibrahim. Nabi Ibrahim pun menikahi Hajar, dan dari pernikahannya dengan hajar ini, Nabi Ibrahim memiliki seorang putera, yaitu Nabi Ismail AS. Dari keturunan Nabi Ismail AS inilah nantinya akan lahir Nabi Muhammad SAW.  

Penyembelihan Nabi Ismail AS 

Nabi Ibrahim diperintahkan Allah untuk membawa Hajar dan Ismail ke Makkah dan meninggalkannya di sana, waktu itu Mekkah adalah sebuah tempat yang gersang dan tak berpenghuni. Pada suatu hari, Ismail sangat kehausan namun di Mekkah saat itu tidak terdapat mata air, sehingga Hajar harus mencarikan air untuk Ismail hingga ia harus bolak-balik dari satu bukit ke bukit yang lain. Ketika Hajar telah benar-benar kelelahan, maka Allah menganugerahkan kepada mereka berdua mata air yang mengalir deras di tempat mereka berada tersebut, sehingga Ismail dapat minum dari airnya. Mata air tersebut akhirnya dikenal dengan sebutan mata air zam zam. 

Hajar dan Ismail tinggal di Mekkah hingga Ismail beranjak dewasa dan Nabi Ibrahim pun kembali ke Mekkah untuk menemui mereka berdua. Nabi Ibrahim sangat menyayangi putra semata wayangnya tersebut karena ia telah lama menunggu kelahirannya putranya tersebut. Pada suatu malam, Nabi Ibrahim diwahyukan oleh Allah melalui sebuah mimpi bahwa ia harus menyembelih putra kesayangannya Ismail. Nabi Ibrahim bersedia untuk melaksanakan perintah Allah tersebut. Nabi Ibrahim meminta pendapat Ismail tentang mimpinya tersebut “Wahai putraku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpiku bahwa aku menyembelihmu, maka katakanlah bagaimana pendapatmu“, Ismail lalu berkata “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang telah diperintahkan kepadamu, InsyaAllah engkau termasuk dalam golongan orang yang bersabar”. 

Nabi Ibrahim dan putranya lalu menuju ke tempat penyembelihan, dan ketika Nabi Ibrahim telah bersiap-siap untuk menyembelih Ismail dengan pisaunya, Allah memerintahkan malaikat Jibril untuk mengganti Ismail dengan seekor kambing gurun yang gemuk dan Nabi Ismail tidak jadi untuk dikurbankan. Peristiwa penyembelihan Nabi Ismail oleh ayahnya itu kemudian diabadikan dalam syariat sebagai salah satu ibadah yang dilaksanakan pada Hari Raya Idul Adha, dan dikenal sebagai ibadah Qurban.   

Referensi : 

[1] Falah., S. 2020. Pendidikan Karakter Berbasis Keluarga Pada Kisah Nabi Ibrahim dan Ismail. Ta’dibuna. 9 (1) : 133-150.  

[2] www.kisahmuslim.com