Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Kisah Abu Jandal bin Suhail bin Amr dan Perjanjian Hudaibiyah

Selasa, 11 Juni 2024 | 14:05 WIB Last Updated 2024-06-11T07:06:35Z
Daftar Isi [Tampilkan]

Ilustrasi Abu Jandal bin Suhail bin Amr | Photo by RAKAN ALREQABI on Unsplash

Ketika Nabi Muhammad SAW mulai menyampaikan risalah kenabian yang diterimanya kepada bangsa Arab, beliau banyak menerima tantangan dan rintangan. Banyak orang yang menentang dakwah beliau, mulai kalangan bangsawan Quraisy hingga kalangan keluarganya sendiri. Para pemuka Quraisy yang menentang dakwah beliau diantaranya adalah Abu Jahal, Abu Sufyan, dan orang-orang dari kalangan Bani Umayyah, sedangkan dari kalangan keluarganya sendiri, dakwah Islam ditentang oleh pamannya yaitu Abu Jahal. 

Orang-orang Quraisy yang mulai mengenal Islam dan tergerak hatinya untuk memeluk agama Islam mendapat kecaman dari orang-orang terdekatnya dan bahkan keluarganya. Banyak diantara mereka disiksa oleh keluarganya karena memeluk agama islam seperti Bilal bin Rabah, Sumayyah dan puteranya Ammar, Saad bin Abi Waqqash, Zaid bin Haritsah, dan Abu Jandal bin Suhail bin Amr. 

Biografi Abu Jandal bin Suhail bin Amr 

Abu Jandal bin Suhail bin Amr adalah salah satu orang Quraisy Mekkah yang telah masuk Islam. Abu jandal memiliki nama asli Abu Jandal bin Suhail bin Amr bin Abdusy Syams. Ayahnya adalah salah satu pemuka Quraisy dan berasal dari kabilah Bani Amir. Abu Jandal mengalami penyiksaan yang dilakukan oleh ayahnya ketika ia memeluk agama Islam. Ayahnya memenjarakan dan merantainya. Abu Jandal juga mengalami nasib malang ketika perjanjian Hudaibiyah disahkan oleh Nabi Muhammad. Abu Jandal masuk Islam atas ajakan saudara kandungnya yang telah lebih dulu masuk Islam yang bernama Abdullah bin Suhail. 

Perjanjian Hudaibiyah   

Perjanjian Hudaibiyah adalah salah satu kesepakatan yang dilakukan antara pihak Nabi Muhammad dan kaum muslimin Madinah dengan orang-orang Quraisy musyrik dari Mekkah. Ketika Nabi Muhammad dan para pengikutnya telah berhijrah dari Mekah ke Yatsrib (Madinah), banyak orang Yahudi Madinah membenci dan tidak menyukai akan keberadaan Rasulullah di Madinah, sehingga terjadilah konflik antara kaum muslimin dengan orang-orang Yahudi yang berujung dengan meletusnya perang Khandaq. Pada suatu hari, Nabi Muhammad bermimpi bahwa beliau dan kaum muslimin lainnya memasuki Kota Mekkah dan melakukan thawaf serta ihram di Baitullah Al Haram. Mengetahui akan mimpi Nabi tersebut, para sahabat pun bersemangat untuk melakukan ibadah di Kota Mekkah. 

Pada bulan Dzulqa’dah tahun ke-6 hijriyah, Nabi Muhammad beserta rombongan pergi meninggalkan Madinah menuju ke Mekkah dengan rombongan yang berjumlah sekitar 1400 orang. Mereka berangkat dengan tujuan untuk beribadah dan bukan untuk berperang. Rasulullah juga membawa 70 ekor unta yang gemuk-gemuk dan domba untuk menghormati Ka'bah. Ketika dalam perjalanan menuju ke Kota Mekah, Rasulullah menerima kabar dari sahabat Bisyr bin Sufyan Al Ka’bi yang ditugaskan Rasulullah untuk memantau kondisi di Kota Mekkah. Bisyr bin Sufyan menyampaikan bahwa masyarakat musyrik Quraisy Mekkah telah mengetahui akan kedatangan Rasulullah dan para sahabat ini ke Mekkah. Bisyr bin Sufyan juga menyampaikan bahwa Khalid bin Walid yang waktu itu belum masuk Islam telah menyiapkan pasukannya guna menghalangi Rasulullah dan rombongan untuk memasuki Mekkah. 

Mengetahui akan kedatangan Khalid bin Walid dan pasukannya, Rasulullah berusaha untuk menghindari terjadinya pertumpahan darah, Rasulullah pun memutar rute yang ditempuh hingga beliau dan rombongan tiba di sebuah tempat bernama Hudaibiyah. Di tempat inilah Rasulullah beserta rombongan beristirahat dan mendirikan tenda. Rasulullah lalu memerintahkan beberapa orang sahabat untuk menjadi utusan ke Mekkah dan menyampaikan bahwa tujuan kedatangan Rasulullah adalah semata-mata untuk beribadah. Salah satu orang yang diutus Rasulullah ke Makkah adalah Kharrasy bin Umayyah Al Khuza’i, namun usahanya tidak membuahkan hasil. Rasulullah kemudian mengutus Utsman bin Affan untuk menuju ke Mekkah. Utsman bin Affan disambut dengan baik oleh penduduk Mekkah dan dipersilahkan untuk melakukan Thawaf di Baitullah. Namun orang-orang Quraisy Mekkah tetap saja tidak membiarkan Rasulullah untuk mengunjungi Mekkah. Bahkan, orang-orang Quraisy Mekkah membuat isu bahwa Utsman telah meninggal. 

Mengetahui berita akan meninggalnya Utsman, Rasulullah lalu menghimpun para pengikutnya dan mengajak mereka berbai’at untuk berperang hingga titik darah penghabisan. Peristiwa ini kemudian dikenal dengan sebutan Bai’at Ridwan yang diabadikan dalam Al Qur’an dalam Surah Al Fath (48) ayat 18. Namun sebenarnya Utsman belum meninggal, dan Utsman tiba-tiba datang menghampiri Rasulullah dengan membawa utusan musyrikin Quraisy yaitu Budail bin Warqa’ Al Khuzai. Namun upaya diplomasi dengan Budail gagal karena orang-orang musyrik Quraisy tidak mempercayainya lantaran ia berasal dari kabilah yang sama dengan Rasulullah yaitu Bani Hasyim. 

Kaum Musyrikin Quraisy kemudian mengutus seorang dari suku Thaqif yang bernama Urwah bin Mas’ud. Rasulullah pun menjelaskan bahwa tujuannya adalah untuk beribadah  Namun kaum musyrikin Quraisy Makkah masih belum mempercayai Urwah bin Mas’ud. Kaum musyrikin Quraisy lalu mengutus Hulais bin Alqamah untuk berunding dengan Rasulullah. Laporan yang disampaikan Hulais juga tidak dipercaya oleh kaum Quraisy Mekkah dan mengatakan bahwa Hulais hanyalah orang gunung yang bodoh. 

Kaum musyrikin Quraisy lalu mengutus Mukhriz bin Hafsh dan mendapatkan hasil yang sama. Akhirnya, musyrikin Quraisy mengutus Suhail bin Amr untuk berunding dengan Rasulullah. Rasulullah tampak yakin dengan Suhail bin Amr. Suhail bin Amr langsung melakukan perundingan dengan Rasulullah dan yang bertindak sebagai sekretaris adalah Ali bin Abi Thalib. Setelah berunding cukup lama, kedua belah pihak pun menyepakati sebuah perjanjian yang dikenal dengan perjanjian Hudaibiyah. Salah satu poin penting perjanjian Hudaibiyah yang cukup merugikan kaum muslimin adalah bahwa setiap orang Quraisy Mekkah yang telah memeluk Islam dilarang untuk bergabung dengan rombongan Rasulullah di Madinah tanpa seizin walinya. 

Setelah beberapa saat perjanjian Hudaibiyah disepakati, maka muncullah putera Suhail yang bernama Abu Jandal bin Suhail. Abu Jandal bin Suhail yang telah memeluk Islam ternyata diam-diam meninggalkan Mekkah untuk bergabung dengan rombongan Rasulullah. Abu jandal melarikan diri dari Mekkah dengan tangan yang masih terikat rantai. Melihat anaknya berlari ke arah Rasulullah, Suhail bin Amr pun sangat marah. Ia lalu menampar wajah putranya tersebut dan menarik kain bajunya. Suhail bin Amr lalu berkata “Wahai Rasulullah, inilah orang pertama yang harus anda kembalikan kepada kami”. Abu Jandal bin Suhail lalu berkata “Wahai kaum muslimin, mengapa aku harus dikembalikan kepada mereka, padahal aku datang sebagai seorang muslim, tahukah kalian apa yang akan aku alami nantinya ?”. Rasulullah berkata kepada Abu Jandal “Wahai Abu Jandal, tabah dan bersabarlah, sesungguhnya Allah akan memberikan pertolongan-Nya kepada orang-orang sepertimu. Sesungguhnya kami telah terikat kesepakatan dengan mereka dan tidak mungkin bagi kami untuk melanggar perjanjian tersebut”. Suhail bin Amr dan para delegasi dari Mekkah lalu membawa kembali Abu jandal bin Suhail ke Kota Mekkah.

Wafatnya Abu Jandal bin Suhail 

Abu jandal bin Suhail wafat ketika terjadi wabah Amwas yang melanda Negeri Syam pada era Kekhalifahan Umar bin Al Khattab. Wabah Amwas terjadi sekitar tahun 17-18 Hijriyah atau tahun 638-639 Masehi. Beberapa sahabat Nabi juga menjadi korban ketika terjadi wabah Amwas, yaitu Abu Ubaidah bin Al Jarrah, Mu’adz bin Jabal, Syurahbil bin Hasanah, Al Fadhl bin Abbas, Yazid bin Abu Sufyan, dan Al Harits bin Hisyam. 

Referensi : 

[1] Gunawan., S. 2021. Kebijakan Umar bin Al Khattab dalam Menghadapi Pandemi Amwas. Jurnal El Qanuniy. 7 (1) : 39. 

[2] www.kisahmuslim.com