Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Kisah Hidup dan Biografi Imam Syafi’i, Imam Mazhab dengan Pengikut Terbanyak di Indonesia

Minggu, 09 Juni 2024 | 21:44 WIB Last Updated 2024-06-09T14:44:51Z
Daftar Isi [Tampilkan]
Kisah Hidup dan Biografi Imam Syafi’i
Ilustrasi Imam Syafi’i

Imam Syafi’i adalah salah satu imam madzhab dalam ilmu fiqih Islam Sunni. Imam Syafi’i mendirikan madzhab Asy Syafi’i yang banyak dianut oleh kalangan masyarakat dunia termasuk di Indonesia. Selain sebagai Imam Madzhab, Imam Syafi’i juga merupakan seorang tokoh keilmuan yang banyak menguasai bidang ilmu dalam dunia Islam. Imam Syafi’i menguasai sastra, tafsir, hadits, fiqih, dan ushul fikih. 

Biografi Imam Syafi’i 

Imam Syafi’i memiliki nama asli Muhammad bin Idris bin Al Abbas bin Usman bin Syafi’ bin As Saib bin Ubaid bin Abdu Yazid bin Hasyim bin Al Muthalib bin Abdu Manaf bin Qushay bin Kilab  bin Murrah bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib Abu Abdillah Al Quraisy Asy Syafi’i Al Makki. Imam Syafi’i memiliki nasab yang bertemu dengan Rasulullah pada Abdu Manaf bin Qushay. Menurut riwayat Imam Al Baihaqi, Imam Syafi’i dilahirkan di Gaza, Palestina pada tahun 767 Masehi atau tahun 150 Hijriyah dari keluarga yang sederhana dan telah yatim sejak kecil. Dalam bidang keilmuan, Imam Syafi’i telah menunjukkan potensinya sejak dini, ia telah menghafal Al Qur’an ketika ia berusia sekitar tujuh tahun dan telah menghafal kitab Al Muwatha’ karya Imam Malik bin Anas di usia 15 tahun. 

Perjalanan Imam Syafi’i Dalam Menuntut Ilmu

Kecintaan Imam Syafi’i terhadap ilmu pengetahuan telah membawanya keluar dari kampung halamannya untuk menuntut ilmu dari para ulama di luar Palestina. Ibunya yang telah menjadi seorang janda membawa Imam Syafi’i kecil ke Kota Mekkah dengan harapan akan memiliki kehidupan yang lebih baik di tengah-tengah suku nenek moyangnya, namun ternyata kehidupan mereka di Mekkah tak jauh lebih baik dari kehidupan sebelumnya. Di Kota Mekkah, Imam Syafi’i mempelajari sastra Arab dan berbaur di tengah suku Hudzail yang fasih berbahasa Arab. Di Masjid Al Haram, Imam Syafi’i belajar mengenai tilawah, tajwid, dan tafsir. Di Masjid Al Haram inilah Imam Syafi’i berguru kepada Muslim bin Khalid, Sufyan bin Uyainah di bidang hadits dan fikih, Ismail bin Qasthanthin dalam ilmu Al Qur’an, dan Imam Al Laits bin Sa'ad dalam bidang sastra dan bahasa. Imam Al Laits adalah seorang mujtahid yang berasal dari Mesir dimana kelak Imam Syafi’i akan mengikuti jejaknya. 

Dalam mempelajari bahasa dan sastra Arab, atas rekomendasi langsung dari Imam Al Laits, Imam Syafi’i mengunjungi desa-desa di suku Hudzail dalam waktu kurang lebih selama sepuluh tahun, beliau bolak-balik dari pedalaman suku ke Masjid Al Haram untuk berdiskusi dan meminta nasihat kepada guru-gurunya di Masjid Al Haram. 

Ketika Imam Syafi’i menginjak usia dua puluh tahun, beliau mendengar kebesaran nama Imam Malik bin Anas, seorang ulama terkenal pada saat itu. Imam Malik bin Anas adalah penulis kitab Al Muwatha’ yang dihafal oleh Asy Syafi’i. Dengan berbekal doa dari sang ibu, Imam Syafi’i kemudian berangkat ke Kota Madinah untuk menuntut ilmu kepada Imam Malik bin Anas. Di Kota Madinah, Imam Syafi’i belajar dibawah bimbingan langsung dari Imam Malik bin Anas dan kehidupannya ditanggung sepenuhnya oleh Imam Malik yang merupakan seorang ulama yang kaya. Imam Syafi’i lalu pergi mengunjungi Kota Baghdad di Irak untuk berguru kepada Muhammad bin Hasan dan Abu Yusuf yang merupakan ulama pewaris madzhab Abu Hanifah. Di Kota Baghdad, Imam Syafi’i mengajarkan metode diskusi dan adu argumentasi sebagai salah satu metode dalam majelis ilmunya. 

Imam Syafi’i kembali ke Kota Madinah dan kembali berada dalam asuhan Imam Malik bin Anas sebagai wakil Imam Malik. Profesinya tersebut menjadikan namanya terkenal ke seluruh penjuru dunia Islam. Akan tetapi, hal itu tidak berjalan lama karena Imam Malik bin Anas wafat pada tahun 179 Hijriyah. 

Pada Usia 29 tahun, Imam Syafi’i mendapat tawaran dari walikota Yaman untuk menjadi sekretaris walikota Yaman. Imam Syafi’i tetap bersikap sebagai seorang ulama yang senang berdiskusi dalam ilmu pengetahuan. Ia bahkan mengkritik para pejabat yang banyak melakukan korupsi. Hal ini menyebabkan Imam Syafi’i mendapatkan fitnah dan tuduhan makar terhadap pemerintah. Imam Syafi’i kemudian dikirim ke Kota Baghdad untuk menghadap kepada Khalifah Harun Ar Rasyid. 

Setelah berbicara langsung dengan Khalifah Harun Ar Rasyid, dan melalui perantara Muhammad bin Al Hasan yang saat itu menjadi Qadhi di Kekhalifahan, Imam Syafi’i dibebaskan, namun tetap dalam pengawasan. Imam Syafi’i lalu dititipkan dalam pengawasan Muhammad bin Al Hasan. Pertemuannya dengan Muhammad bin Al Hasan tidak dilewatkan begitu saja, Imam Syafi’i berdiskusi dengan Muhammad bin Al Hasan dan juga mempelajari kitab-kitab karya Ibnu Hasan yang dia tulis berdasarkan pendapat dari Imam Abu Hanifah. 

Setelah mengetahui bahwa Imam Syafi’i bersih dari perbuatan makar dan juga telah melihat kemampuan Asy Syafi’i dalam bidang keilmuan, Khalifah Harun Ar Rasyid berniat untuk menjadikan Imam Syafi’i sebagai Qadhi, namun hal itu ditolak oleh Imam Syafi’i karena beliau ingin menjadi ahli fiqih yang benar-benar bebas. Atas penolakannya tersebut, Khalifah Harun Ar Rasyid lalu memberikan hadiah besar kepada Imam Syafi’i. Hadiah itu beliau gunakan untuk kembali ke Mekkah dan mengembangkan majelis ilmu pengetahuannya di Kota Mekkah. Jika sebelumnya Imam Syafi’i mengajarkan ijtihad Imam Abu Hanifah, maka sekarang Asy Syafi’i telah menjadi seorang mujtahid yang mandiri, beliau melakukan kajian yang mendalam terhadap pola pikir dua mazhab terdahulu dan hasil studinya beliau tulis dalam kitab berjudul Khilaf Malik dan Khilaf Iraqiyyin.  

Pada tahun 198 Hijriyah, Imam Syafi’i mengunjungi Kota Baghdad untuk ketiga kalinya, namun kedatangannya kali ini bukan untuk belajar melainkan untuk mengajarkan gagasan-gagasan dan ijtihadnya. Namun, suasana di Kota Baghdad sudah berubah ketika itu, beliau telah kehilangan sahabat sekaligus guru dalam ilmu pengetahuan, yaitu Muhammad bin Al Hasan. Khalifah Harun Ar Rasyid telah wafat dan digantikan oleh putranya Muhammad Al Amin lalu digantikan oleh Abdullah Al Makmun. Kota Baghdad baru saja diguncang perang saudara. 

Diantara guru-guru Asy Syafi’i adalah Muslim bin Khalid Az Zanji, Malik bin Anas, Ibrahim bin Saad dan masih banyak yang lainnya. Sedangkan murid-murid Imam Syafi’i diantaranya adalah Sulaiman bin Dawud Al Hasyimi, Abu Bakar Abdullah bin Az Zubair Al Humaidi, Ahmad bin Hanbal, Abu Ya’qub Yusuf bin Yahya Al Buwaithy, Ar Rabi’ bin Sulaiman Al Muradi, Ar Rabi’ bin Sulaiman Al Jiziy dan lainnya. 

Wafatnya Imam Syafi’i  

Setelah dari Kota Baghdad, Syafi’i memilih menghabiskan sisa hidupnya di Negeri Mesir, beliau menghabiskan waktunya untuk mengajar di Masjid Jami’ Fustat di Mesir. Imam Syafi’i wafat di Mesir pada tanggal 28 Rajab tahun 204 Hijriyah dalam usia 54 tahun. 

Referensi : 
[1] Hudaya., H. 2017. Mengenal Kitab Al Umm Karya As Syafi’i. Jurnal Studi Islam dan Humaniora. 14 (1) : 59-80.  Nizar., TJ dan Yusof., FM. 2013. Pemikiran Aqidah Imam As Syafi’i. Jurnal Teknologi. 62 (1) : 55-65.  
[2] Rohidin. 2004. Historisitas Pemikiran Hukum Imam As Syafi’i. Jurnal Hukum. 11 (27) : 97-105.