Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Kisah Hidup dan Biografi Imam Al-Bukhari

Selasa, 11 Juni 2024 | 01:21 WIB Last Updated 2024-06-10T18:21:45Z
Daftar Isi [Tampilkan]

Kisah Hidup dan Biografi Imam Al-Bukhari
Ilustrasi Imam Al-Bukhari

Imam Al Bukhari merupakan salah satu ulama hadits terkemuka dalam sejarah dunia Islam. Ia adalah seorang ahli hadits yang menulis kitab shahih bukhari atau Al Jami’ Ash Shahih. Karena kehebatan dan kekuatan hafalannya, Imam Al Bukhari telah mampu menghafal 15.000 hadits di luar kepala sejak ia remaja. Imam Al Bukhari tidak pernah terlihat mencatat hadits ketika sedang berada di sebuah majelis. Ia memiliki gelar Amirul Mukminin dalam ilmu hadits. 

Biografi Imam Al Bukhari 

Imam Al Bukhari memiliki nama asli Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Ju’fi Al Bukhari. Namanya dinisbatkan kepada kampung halamannya, yaitu Kota Bukhara. Beliau lahir di Kota Bukhara, Asia tengah pada tanggal 13 bulan Syawal tahun 194 Hijriyah. Islam masuk ke kawasan Asia Tengah di tangan seorang komandan bernama Qutaibah bin Muslim pada masa pemerintahan Khalifah Al Walid bin Abdul Malik dari Daulah Umayyah. Kota Bukhara saat ini terletak di Negara Uzbekistan. Ayahnya Al Bukhari, Ismail bin Ibrahim, merupakan seorang ulama yang disegani saat itu. Ayahnya pernah berguru kepada ulama terkemuka seperti Malik bin Anas, Hammad bin Zaid, dan Ibnu Mubarak. Imam Al Bukhari merupakan seorang yatim sejak kecil. Ia juga mengalami kebutaan ketika masih kecil. Namun, ibunya selalu berdoa agar Al Bukhari diberikan penglihatan kembali. Pada suatu hari, ibunya bermimpi bertemu dengan Nabi Ibrahim AS, Nabi Ibrahim kemudian berkata kepada ibunya “Wahai ibu, Allah telah mengembalikan penglihatan anakmu lantaran banyaknya tangisan doamu”. Pada keesokan harinya, Al Bukhari kecil kemudian dapat melihat selayaknya orang normal. 

Sejak usia kurang dari 10 tahun, Al Bukhari telah mempelajari ilmu hadits dan pada usia 16 tahun ia telah menghafal beberapa buah buku karya ulama hebat seperti Ibnu Mubarak, Al Waqi’, dan lain-lain. Beliau tidak hanya menghafal isi hadits, melainkan juga para perawi dan sanad hadits tersebut. Beliau pernah menetap di Negeri Hijaz selama 6 tahun untuk mempelajari hadits dan pernah mengunjungi Kota Baghdad, ibukota Daulah Abbasiyah sebanyak 8 kali. Ketika beliau mengunjungi Baghdad, para ulama hadits di Kota baghdad saat itu ingin menguji kekuatan hafalan Al Bukhari dalam ilmu hadits. Mereka membacakan berbagai hadits kepada Al Bukhari dengan mengubah sanad dan matan hadits secara acak, kemudian memerintahkan Al Bukhari untuk membacakan hadits-hadits tersebut secara lengkap beserta dengan sanad mana yang tepat dengan hadits tersebut. Imam Al Bukhari mampu secara sistematis menjawab semua pertanyaan yang diajukan kepadanya. 


Dalam mempelajari ilmu hadits, Imam Al Bukhari melakukan pengembaraan ke berbagai negeri Islam untuk mempelajari hadits dari para ulama. Ketika beliau mengunjungi Kota Mekkah, beliau berguru kepada Abu Al Walid Ahmad bin Muhammad Al Azraqi, Abdullah bin Yazid Al Muqri, Ismail bin Salim Ash Shaigh, dan Abu Bakar Al Humaidi bin Az Zubair Al Quraisy. Di Kota Madinah, beliau berguru kepada Ibrahim bin Mundzir Al Hizami, Muthraf bin Abdullah bin Hamzah, Abu Tsabit Muhammad bin Abdillah, Abdul Aziz bin Abdullah, dan Yahya bin Qaz’ah. Di Kota Baghdad, beliau berguru kepada Muhammad bin Isa Ath Thiba’i, Muhammad bin Sabiq, Suraih, dan Imam Ahmad bin Hanbal. Imam Al Bukhari juga mengunjungi kota-kota lain seperti Bashrah, Kufah, Kairo, Bukhara, dan Naisabur. Setiap kali ia singgah di sebuah kota, ia selalu menyempatkan diri untuk belajar ilmu hadits. 


Imam Ahmad bin Hanbal pernah berkata tentangnya “Khurasan tidak pernah melahirkan ulama yang sekaliber Muhammad bin Ismail Al Bukhari”. Imam Muslim berkata kepadanya “Aku bersaksi bahwa tiada di dunia ini orang yang piawai dalam hadits sepertimu”. Pengarang kitab Al Mustadrak, Imam Al Hakim pernah berkata “Dia tidak diragukan lagi, seorang ahli hadits di kalangan ahli naqli”. Pengarang kitab Ash Shahih, Ibnu Huzaiman ikut berkomentar “Di bawah langit ini, tidak ada yang lebih pandai dalam ilmu hadits melebihi Al Bukhari”. Imam Al Bukhari juga ahli dalam bidang fikih. Nuaim bin Hammad menjulukinya dengan sebutan Faqih Hadzihi Al Ummah


Imam Al Bukhari pernah bermimpi bertemu dengan Rasulullah dan di dalam mimpinya itu ia melindungi Rasulullah dengan sebuah kipas. Mimpi ini berarti bahwa ia kelak akan melindungi Rasulullah dari para pendusta atas hadits-haditsnya


Karya-karya Imam Al Bukhari 

Imam Al Bukhari telah menuliskan ilmu yang dipelajarinya dengan menghasilkan berbagai karya. Karyanya yang paling masyhur adalah kitab Shahih Bukhari yang memiliki judul lengkap Al Jami’ Al Musnad Ash Shahih al-Mukhtashar min Umur Rasulillah wa Sunnatihi wa Ayyamihi. Beberapa kitab karya Imam Al Bukhari yang lain adalah Qadhaya As Shahabah, Raf’al Yadain, At Tafsir Al Kabir, Al Musnad Al Kabir, Tarikh Shaghir, Tarikh Ausath, Tarikh Kabir,  Al Adab Al Mufrad, Birrul Walidain, Adh Dhu’afa’, Al jami’ Al Kabir, Al Asyribah Asma’ Ash Shahabah, Al Wuhdan, Al Mabsuth, dan Al Fawa’id. 


Kitab Al Jami’ Ash Shahih mulai ditulis oleh Al Bukhari ketika beliau berada di Masjid Al Haram saat sedang mengunjungi Mekkah dan penulisannya selesai ketika beliau berada di Masjid Nabawi, Madinah. Imam Al Bukhari membutuhkan waktu sekitar 16 tahun untuk menyelesaikan kitab tersebut. Sebelum beliau menuliskan hadits dalam kitab tersebut, beliau mandi terlebih dahulu kemudian, shalat istikharah untuk meminta petunjuk kepada Allah, baru kemudian menyeleksi hadits-hadits tersebut secara hati-hati dan menuliskan mana hadits yang shahih.


Kitab Al Jami’ Ash Shahih memuat sekitar 9.082 buah hadits shahih yang telah diseleksi dari sekitar 600.000 hadits. Hadits-hadits dalam kitab tersebut disertai juga dengan pengulangan. Kitab ini dibagi menjadi beberapa sub judul yaitu 4450 bab. Imam Al Bukhari pernah berkata mengenai kitab ini “Aku menyusun kitab Al Jami’ Al Musnad Ash Shahih ini berdasarkan hasil seleksi dari 600.000 buah hadits selama 16 tahun”. 


Wafatnya Imam Al Bukhari 

Imam Al Bukhari wafat pada hari Jum’at malam Idul Fitri tahun 262 Hijriyah atau tahun 870 Masehi di sebuah tempat bernama Khartank, sebuah desa di dekat Kota Samarkand. Menjelang wafatnya, ia berdoa “Ya Allah, bumi ini sekarang menjadi sempit bagiku, maka cabutlah nyawaku”. Murid-murid Imam Al Bukhari diantaranya adalah Imam At Tirmidzi, Imam Al Marwazi, Imam Ibnu Khuzaimah, Imam Abu Ali Shalih Al Asadi, dan Imam Abu Ja’far Al Hadhrami.


Referensi : 

[1] Misbah., M. 2015. Imam Al Bukhari Dan Karya Monumentalnya Shahih Bukhari. Hadisuna. 1 (3) : 21-25. 

[2] Muhsin., M. 2016. Metode Al Bukhari Dalam Al Jami’ As Shahih. Jurnal Holistic. 2 (2) : 280-289. 

[3] Sattar., A. 2011. Konstruksi Fiqih Bukhari Dalam Kitab Al Jami’ Ash Shahih. Jurnal Syari’ah dan Hukum. 3 (1) : 36-46.